Cari Paket Umroh VIP Terjangkau di Jakarta Timur Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Cari Paket Umroh VIP Terjangkau di Jakarta Timur Alhijaz Indowisata didirikan oleh Bapak H. Abdullah Djakfar Muksen pada tahun 2010. Merangkak dari kecil namun pasti, alhijaz berkembang pesat dari mulai penjualan tiket maskapai penerbangan domestik dan luar negeri, tour domestik hingga mengembangkan ke layanan jasa umrah dan haji khusus. Tak hanya itu, pada tahun 2011 Alhijaz kembali membuka divisi baru yaitu provider visa umrah yang bekerja sama dengan muassasah arab saudi. Sebagai komitmen legalitas perusahaan dalam melayani pelanggan dan jamaah secara aman dan profesional, saat ini perusahaan telah mengantongi izin resmi dari pemerintah melalui kementrian pariwisata, lalu izin haji khusus dan umrah dari kementrian agama. Selain itu perusahaan juga tergabung dalam komunitas organisasi travel nasional seperti Asita, komunitas penyelenggara umrah dan haji khusus yaitu HIMPUH dan organisasi internasional yaitu IATA. Cari Paket Umroh VIP Terjangkau di Jakarta Timur

JEDDAH, Saco-Indonesia.com — Layla Eshki (33), tak kuasa menahan decak kagumnya ketika mengamati gaun putih bermotif abstrak di bagian ujung yang dikenakan salah satu pemenang World Muslimah Beauty 2012, Deanita. Ketika itu, para pemenang WMB 2012 tengah bertemu masyarakat Indonesia di Jeddah dan warga Arab untuk mengenalkan ajang pencarian duta Muslimah inspiratif itu di Jeddah, Jumat (31/5/2013) lalu.

"It's beautiful! I never seen hijab like this in here," tukas Lyla sambil berkali-kali menyentuh pakaian muslim dari rumah busana Mumtaaz itu.

Lyla bercerita bahwa di Arab Saudi, para perempuan hanya terpaku pada sebuah baju muslim dengan warna hitam. "Di sini, semuanya hitam. Tak ada warna-warna cantik seperti ini," tutur perempuan yang bekerja sebagai fotografer lepas itu.

Hampir seluruh toko, cerita Lyla, menjual jubah dengan warna hitam di tokonya. Jubah yang dikenal dengan sebutan abayya itu biasa dikenakan perempuan Arab sebagai baju pelapis mana kala pergi ke luar rumah. Lyla mengaku bosan melihat pakaian yang itu-itu saja di negaranya.

"Yang saya tahu Islam itu tidak hanya hitam. Islam itu tidak membosankan, makanya saya pun pakai abayya dengan warna- warna cerah, meski hal ini tidak lazim di sini," kata Lyla.

Lyla melihat tampilan busana muslim karya para desainer dari Mumtaaz bisa menjadi salah satu panduan bagi perempuan Arab untuk berbusana muslim. Pasalnya, lanjut Lyla, kini perempuan Arab —khususnya di Jeddah— banyak yang terjebak dengan busana muslim yang tidak Islami.

"Mereka mengenakan celana jeans ketat sampai terlihat g-string, atau menggunakan baju ketat sampai terlihat belahan dadanya. Jelas ini sudah salah mode," tuturnya.

Menurut Lyla, kesalahan mode itu lebih banyak terjadi di Jeddah. Sementara di Mekkah dan Madinah, hal tersebut tidak terjadi karena kedua kota itu adalah kota suci bagi umat Islam. Di Mekkah dan Madinah, aku Lyla, cara berpakaian perempuan sangat diatur secara ketat, berbeda halnya dengan di Jeddah.

Manajer Operasional Mumtaz Boutique, Surya Artaty, menjelaskan bahwa pemilihan baju-baju yang dikenakan para pemenang WMB benar-benar dipilih secara selektif. Pasalnya, pada sesi pemotretan kali ini, para pemenang WMB dituntut untuk lebih menekankan busana muslim yang syar'i. Busana muslim syar'i yakni yang menutup aurat, tidak menunjukkan lekuk tubuh, dan kerudung menutup hingga bagian dada.

"Untuk membuat busana muslim yang syar'i ini kami tidak memiliki tema khusus yang diangkat karena setiap desainer yang bergabung dengan kami memiliki ciri khasnya masing-masing," imbuh Taty.

Setidaknya ada 20 pakaian yang dikenakan para peserta WMB selama di Arab Saudi. Seluruh pakaian muslim itu merupakan karya dari Malik Moestaram, Dian Pelangi, Shebe, Adhy - Alie, Sascha, Astrie, Zebu, Jenahara, Nuniek Mawardi, Bilqis, dan Lia Afif.

World Moslem Beauty merupakan ajang pencarian duta Muslimah inspiratif sedunia yang diselenggarakan oleh World Moslem Beauty Foundation. WMB merupakan acara tahunan yang dilakukan sejak tahun 2011. Tahun ini, WMB mengubah namanya menjadi Annual Award of World Muslimah.

Perjalanan ibadah umrah ke Arab Saudi merupakan hadiah bagi para pemenang WMB 2012, sekaligus untuk mempromosikan kompetisi tersebut ke dunia. Ada tujuh pemenang yang mengikuti perjalanan ini, yaitu Nina Septiani (Juara I), Dwi Handayani Putri (Juara II), Anggun Hiasyah (Juara III), Tasya Gunoto (The Most Innovative Muslimah), Rizkitha (The Best Video and Al Quran Recitation by Polling), Al Khansa (The Most Talented Muslimah), dan Dheanita Tribuana (The Favorite by Polling).

 

Editor :Liwon Maulana(galipat)
Sumber:http://female.kompas.com/read/2013/06/04/10052199/Perempuan.Arab.Terpana.Melihat.Bu sana.Muslim.Indonesia
Waaah ....Perempuan Arab Saja Terpana Melihat Busana Muslim Indonesia

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »